12/04/2016
Alas kaki NILOU
~
Sepatu or alas kaki made in Bali ini sudah dipajang di ratusan etalase di 20 negara.
Pesohor asal Hollywood, seperti Uma Thurman, Tara Reid, Robyn Gibson (mantan istri Mel Gibson), supermodel Gisele Bundchen, dan Julia Robert merupakan sebagian wanita yang fanatik memakai sepatu Nilou.
Ni luh Djelantik, begitulah ia dikenal, pencipta brand sepatu Nilou.
Putri dari pasangan Ni Nyoman Palmi dan Putu Djelantik ini merupakan seorang desainer sepatu produk dalam negeri yang banyak berkiprah di industri mode dunia.
Luh Djelantik berasal dari keluarga yang sederhana dan broken home dan sejak umur setahun ia ikut ibunya berjualan di Pasar Kintamani. Sebagai orangtua tunggal, ibu nya berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik.
Luh Djelantik kecil memiliki hasrat membaca yang sangat besar, namun karena kehidupannya yang pas-pasan ibunya tidak bisa membeli banyak buku untuk nya. Untungnya, tak jauh dari kios tempat ibunya menggelar dagangan, ada sebuah toko buku. Sejak ia bisa membaca, ibunya menitipkannya di toko itu. Sambil bekerja menjaga kios, ia pun bisa membaca buku sebanyak yang ia mau. Dengan keterbatasan pendidikan dan waktu yang habis untuk bekerja, ibunya mengaku tidak dapat mengajarkan banyak hal kepada nya. Setamat SMA, ia meneruskan pendidikan di Jakarta sesuai dengan keinginan ibunya. Ia kuliah di manajemen keuangan Universitas Gunadarma. Setahun di Jakarta, ia belajar mencari kerja agar bisa mandiri.
Akhir tahun 2001 ia kembali ke Bali dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion Paul Ropp milik pengusaha Amerika Serikat. Ia dipercaya untuk memegang kendali sebagai Direktur Marketing. Kerja kerasnya berbuah sukses, Paul Ropp berkembang pesat. Di tahun pertama yakni 2002, penjualan naik hingga 330%.
Namun di 2003, ia mengalami masalah cukup berat karena profesinya itu menuntut nya untuk selalu terbang ke sejumlah negara, dan dengan jam kerja panjang dan harus setiap saat siap bepergian untuk melakukan trade show dan juga membuka pasar bagi perusahaan tersebut, yang akhirnya membuat ia jatuh sakit dan dokter meminta nya tak berpergian jauh sekurangnya dalam waktu enam bulan.
Ia memutuskan ingin berpindah haluan. Bersama temannya, ia mendirikan usaha pembuatan sepatu.
Dia fokus mendesain sepatu-sepatu cantik berbahan dasar kulit. Semua dikerjakan tangan agar kualitas tetap terjaga.
Toko pertamanya pun tak sedap dipandang mata, temboknya kusam, beberapa bagian kayu sudah mulai lapuk, dan sebagian ruangan masih berdinding gedek. Tapi ia berpikir Positip dan selalu bersemangat. Dan satu yang dia ingat pesan ibunya , Jujur..Jujur...dan Jujur dan jangan menyusahkan orang lain.
Nama tokonya itu Nilou. Brand NILOU ini berasal dari slang lafal Niluh di lidah bule.
Kelewat tipisnya modal usaha, ia hanya mampu memajang tiga sepatu di etalase toko. Agar tak merugi, ia baru akan membuat sepatu kalau ada yang memesan.
Tak disangka, koleksi nya langsung ada seseorang yang memesan. Dan selanjutnya booming di Prancis. Pesanan pun membanjir. Hingga 4.000 pasang. Pada 2004, ia mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris. Pintu perdagangan ke Eropa kian terbuka lebar.
Di tahun yang sama, seorang perempuan berkewarganegaraan Australia berkunjung ke gerai Nilou di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di Negeri Kanguru.
Sepatu-sepatunya kebanyakan memakai bahan baku kulit asli, dikombinasikan dengan karung goni, kuningan, kayu, hingga manik-manik. Atas nama eksklusivitas, Nilou menghargai sepasang sepatunya hingga Rp 4 juta. Omzet perusahaan yang diraih pun terbilang besar, mencapai Rp 800 juta untuk setiap bulan.
Di tengah kesuksesan, cobaan kembali datang. Pada 2007, ia mendapat tawaran dari agen di Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap. Nilou diproduksi secara massal di Cina dengan iming-iming sejumlah besar saham.
Dengan tegas, Niluh menolak. Dia tak ingin cintanya yang melekat setiap pasang sepatu yang dihasilkan dari workshopnya tergantikan oleh mesin atas nama kapitalisme. “Saya tak mau apa yang dibina dari nol dibawa ke luar negeri. Berkah dari Tuhan kembali ke anak-anak [pengrajin],” kilasnya.
Namun, keputusan itu harus menjadi pil pahit. Nilou yang sudah mendunia ternyata sudah didaftarkan pihak lain. Penolakan nya tak membuat bergeming. Kongsi pecah. “Mereka tetap jalan dengan mass production bermerek Nilou berbasis di Cina,” ujar nya.
Karena alasan itu p**a, dia terpaksa membunuh Nilou.
Awal 2008, pecinta shopping dan travelling ini kembali membangun usahanya dengan memproduksi sepatu bermerek “Niluh Djelantik”. Agar tak terulang, brand Niluh Djelantik langsung dipatenkan.
Setahun kemudian high heels buatannya sudah melanglang buana kembali di berbagai negara Eropa, Australia dan Selandia Baru.
Label baru ini bahkan telah menembus Globus Switzerland pada 2011, yang merupakan salah satu retailer terkemuka di Eropa. Dan belum lama ini juga bekerja sama dengan retailer terkemuka untuk membuka Niluh Djelantik di Rusia.
Atas kerja kerasnya, ia meraih Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards. Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women Awards.